Peran Radio Pada Masa Kemerdekaan

Peran Radio Pada Masa Kemerdekaan

Dalam sejarah perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia, ada banyak komponen yang mendukungnya, salah satunya adalah media komunikasi radio. Radio dianggap memiliki jangkauan luas dan mampu menyampaikan informasi bantahan atas doktrin dan berita bohong yang disebarkan penjajah Hindia Belanda pada agresinya. Lalu, apa saja peran Radio pada masa kemerdekaan?

Perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan pasca-proklamasi merupakan masa-masa yang sangat genting dan berat. Setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia masih mendapat Agresi Militer dari Belanda pada tanggal 21 Juni 1947.

Perkembangan penyiaran radio di Indonesia diawali pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1925 oleh Prof. Komans dan Dr. De Groot yang berhasil melakukan komunikasi radio dengan menggunakan stasiun relai di Malabar, Jawa Barat.

Peristiwa ini kemudian diikuti dengan berdirinya Batavia Radio Vereniging dan NIROM. Penyiaran radio di Indonesia dimulai dengan berkembangnya radio amatir yang menggunakan perangkat pemancar radio sederhana yang mudah dirakit.

Tahun 1945, Gunawan berhasil menyiarkan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan menggunakan perangkat pemancar radio sederhana buatan sendiri. Pada tahun 1966, mengudara radio Ampera yang merupakan sarana perjuangan kesatuan-kesatuan aksi dalam perjuangan orde baru.

Pada tanggal 11 September 1945, rapat yang dihadiri oleh para tokoh yang sebelumnya aktif mengoperasikan beberapa stasiun radio Jepang sepakat mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI). Rapat juga sepakat memilih Dokter Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama. Hingga pada perjalanannya peran radio menjadi alat satu-satunya untuk menggelorakan perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejarah Singkat Radio

Sebagaimana dilansir laman RRI, Siaran radio Hoso Kyoku dihentikan tanggal 19 Agustus 1945. Sejak saat itu, masyarakat menjadi buta akan informasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah Indonesia merdeka. Apalagi, radio-radio luar negeri saat itu mengabarkan bahwa tentara Inggris yang mengatasnamakan Sekutu akan menduduki Jawa dan Sumatera.

Tentara Inggris dikabarkan akan melucuti tentara Jepang dan memelihara keamanan sampai pemerintahan Belanda dapat menjalankan kembali kekuasaannya di Indonesia. Dari berita-berita itu juga diketahui bahwa Sekutu masih mengakui kedaulatan Belanda atas Republik Indonesia dan kerajaan Belanda dikabarkan akan mendirikan pemerintahan benama Netherlands Indie Civil Administration (NICA).

Menanggapi hal tersebut, orang-orang yang pernah aktif di radio pada masa penjajahan Jepang menyadari radio merupakan alat yang diperlukan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk berkomunikasi dan memberi tuntunan kepada rakyat mengenai apa yang harus dilakukan.

Pada 11 September 1945 pukul 17.00, delegasi wakil-wakil dari 8 bekas stasiun pemancar radio Hosu Kyoku mengadakan pertemuan bersama pemerintah di Jakarta. Mereka berkumpul di bekas gedung Raad Van Indie Pejambon. Delegasi radio yang saat itu mengikuti pertemuan adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto dan Maladi.

Abdulrahman Saleh yang menjadi ketua delegasi menguraikan garis besar rencana pada pertemuan tersebut. Salah satunya adalah mengimbau pemerintah untuk mendirikan radio sebagai alat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat mengingat tentara Sekutu akan mendarat di Jakarta akhir September 1945. Radio dipilih sebagai alat komunikasi karena lebih cepat dan tidak mudah terputus saat pertempuran.

Malam harinya, para delegasi tersebut kembali melakukan rapat di rumah Adang Kadarusman. Hasil akhir dari rapat itu adalah didirikannya RRI dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya. Tanggal pertemuan bersejarah tersebut kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Radio Nasional atau Hari RRI.

Peran Radio Pada Masa Perjuangan Kemerdekaan

Sebagaimana dilansir laman Kemenkeu, penjajah Hindia Belanda menebar berita bohong tentang bubarnya Indonesia kepada seluruh dunia, lalu memutus semua akses Indonesia kepada dunia internasional dengan cara menghancurkan Radio Republik Indonesia (RRI) di Yogyakarta.

Namun, di kawasan Kabupaten Aceh Tengah, ada sebuah radio yang bernama Radio Rimba Raya yang masih mengudara. Radio Rimba Raya inilah yang akhirnya menyuarakan bahwa Indonesia masih ada dan merdeka. Dahulu, radio ini memancarkan siarannya dengan menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, dan Urdu.

Narasi tentang perjuangan Indonesia melawan klaim Belanda tersebut didokumentasikan pada sebuah monumen nasional yaitu Tugu Perjuangan Radio Rimba Raya yang terletak di Kampung Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

Pemancar Radio Rimba Raya selamat dari pengeboman yang dilakukan militer Belanda pada seluruh pemancar di Indonesia saat itu. Panglima Divisi X Gajah, Kolonel Hoesin Yoesoef mengamankan antena dan pemancar Radio Rimba Raya dan berpindah-pindah di tengah hutan untuk menghindari serangan militer Belanda.

Upaya Belanda menutup total seluruh akses Indonesia kepada dunia internasional terus berlanjut. Sultan Aman Mar kemudian mengawal secara ketat dan rahasia pemindahan pemancar dari markas tentara Divisi X Gajah ke hutan Burni Bies untuk menghindari kejaran Belanda.

Pemindahan pemancar radio tersebut terjadi secara dramatis dimana rombongan terpaksa menyingkir dari jalan untuk bersembunyi dari intaian pesawat militer Belanda. Pemindahan pemancar radio ke hutan Burni Bies terlalu berisiko hingga akhirnya pemancar dialihkan ke Hutan Rimba Raya.

Siaran Radio Rimba Raya dilakukan menggunakan station radio berkekuatan 1 kilowatt pada frekuensi 19,25 dan 61 meter. Siaran tersebut berisi bantahan-batahan terhadap klaim Belanda tentang bubarnya Indonesia dan disiarkan menggunakan 3 bahasa, yaitu bahasa Inggris, bahasa Urdu, dan bahasa Indonesia.

Siaran tersebut dipancarkan sampai ke Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Australia, hingga Eropa. Radio Rimba Raya terus berperan aktif sampai saat Pemerintahan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

 

Peran Radio Pada Masa Kemerdekaan - .


Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Cart

Tidak ada produk di keranjang.

Added a product

Peran Radio Pada Masa Kemerdekaan

03 min