Ketika ke Trans TV

Pernah ke Trans TV? Maksudnya ke gedungnya.. Kalau pernah, gue yakin pasti itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup. Terutama buat orang daerah, seperti saya contohnya hehe. Ngomongin Trans sendiri, ciri khas mereka yang bisa kita lihat jelas adalah banyaknya acara yang diambil langsung dari lokasi gedung Trans. Seperti: Good Morning, Ceriwis, Extravaganza, Akhirnya Datang Juga, bahkan Jail yang juga sering nyari korban di sekitar gedung, serta acara lain sebagainya.

Dan gak bisa dipungkiri lagi yang bakal jadi oleh-oleh cerita kalau kita ke sana adalah melihat artis-artisnya itu bow.. bersliweran kesana kemari. Kalau diniatin mau foto bareng mungkin bakalan kewalahan.. ‘Eh ada mba luna maya, foto bareng mbak!’ Trus pas lagi foto ngelihat aming lewat.. ‘Aming minta foto barengnya donk’. Baru mulai pasang pose, disamping baru lewat Indy Barendz.. Yah, Trans TV memang sudah menjadi ‘kantor’nya para selebriti indonesia.

Sekarang saya juga akan berbagi pengalaman ndeso ini kepada Anda sekeluarga.. hihihi…

Gue masih ingat sekali ketika pertama kali menginjakan kaki ke Gedung yang juga satu area ma Bank Mega Pusat tersebut. Ketika gue sedang ada di dalam salah satu ruangannya. Pas lagi kebeletnya kemudian gue memutuskan untuk pipis ke toilet.. la iya lah ke toilet masa ke kolam depan, bisa di tendang securitynya gue.

Sat-sut.. serrr… arrggghhh!!! Apaan coba? Maksudnya adegan erotis di toilet. Sip dah dikuras semua. Guepun melangkahkan kaki ke luar toilet. Tapi sebelum keluar pintu, ada cowok yang baru berselisih jalan ma gue, mukanya sangat familiar. Kemudian dengan spontan dan lantangnya daku teriak norak ‘IRVAN HAKIM..’ Si Irvan yang kaget gue teriak persis di depannya langsung pasang senyum+senang (Im sure) melihat kehebohan gue dan he say.. ‘Hai…’ hahaha.. gue jadi malu sendiri. Malu sekaligus kagum.. kayak mimpi.

Kembali ke ruangan semula tadi, ketika asyiknya ngobrol ma sohib. Datang cowok tinggi, besar, kekar, brewok. Sumpah, preman bener nih orang. Sohib gue yang notabene: Cewek yang sedari tadi emang duduk disampingku mendadak teriak.. ‘TORA SUDIROOO’. Guepun baru nyadar, Iya Tora, euy.. Wah, Tora benar-benar jauh dari yang gue liat di TV selama ini, soalnya aslinya kayak raksasa..

Hingga 1 moment yang paling membuat aku terkagum-kagum, serasa sadar-gak sadar, mimpi apa bukan. But It’s Real.. Malamnya, gue bareng teman-teman yang lain diajak nonton Extravaganza di Studio 1. Kita mah emang gak tau tempatnya dimana, jadi krulah yang berbaik hati menuntun kita masuk ke lorong kemudian menyusuri semacam triplek-triplek pajangan, dengan nuansa gelap.

Byaarrr… Gue sungguh terpesona melihat pemandangan ratusan penonton yang ketawa-ketawa menyaksikan langsung sketsa Extravaganza, busyet.. ini yang sering kulihat di tipi. Penonton sedang duduk dan asyik menikmati acting pemain sketsa. Belum habis rasa kagum, kita dibawa tepat di depan panggungnya, pas di samping kameramennya. Melihat aming cs sedang acting di depanku membuatku kembali terperangah.. Oh this is My dream, and here comes true.. Oh inilah seorang anak daerah yang mendapat kesempatan untuk melihat langsung persis di depan hidung bagaimana sebuah acara besar sedang dimainkan. This is Big Gift from God.

Oh ya, 1 lagi. Ketika lagi di ruangan gitu, gue yang asyik-asyiknya bercengkrama (tsah bercengkrama, lama tak memakai istilah itu) tiba-tiba sebuah lagu terdengar gak asing.

‘Yo Wess…’

Langsung gue tau tuh lagu apa.. Ceriwis!!! My Favorite Program so much… Gue ajak salah satu temanku untuk menuju di mana suara itu berasal. Dan tibalah kita di studio yang sudah stand by berjubel kru, Indy, Bekti serta Simply Fresh Band. Wow.. Sebuah studio yang dirancang seperti ruang tamu benar-benar jelas gue saksikan. Kitapun berdesak-desakan masuk ke dalam untuk melihat bagaimana Indy menguasai acara, gila benar.. melihat segala penjuru sudut ruangan seperti inikah behind the cameranya. Para kru n penonton berdesak-desakan di ruangan yang sempit sekali. Kelihatan di Tipi sih ruangannya lumayanlah, pas aslinya sempittt…. But Im so Happeeyyy, of course!!!

Yap kalau ngomongin mereka berdua, Indra Bekti ternyata aslinya putih… banget. Bahkan kulitnya agak kemerah-merahan, tinggian gue sih hihihi, tapi perutnya lebih unggulan dia (lebih maju) hahaha.. kalau ganteng JELAS SADAR DIRI gue bilang gue lebih ganteng dari dia. Tapi bagi yang tahu.. sayangnya banyak yang gak tau hahaha.. kebanyolan mereka di tipi gak berbeda dengan sehari-hari mereka. Upss… ada yang lewat lenggak-lenggok gitu aja di sampingku.. wah ada Olga.. hahaha.. seru banget dah.

Hari demi hari ketika di Trans, melihat artis yang bersliweran menjadi pemandangan yang biasa. Pernah bersama Omas dalam 1 ruangan, gue seneng banget. Soalnya Omas kan lucu tuh, one of legend kalau aku bilang. Gue jadi pengen foto bareng, tapi pas lihat-lihat lagi mukanya. Gila, judes banget mukanya. Niatpun dibatalkan, takut dicuekin omasnya. Padahal ya emang begitulah tampang omas. Judes plus monyong-monyongnya hihihi.

Seruw!!! Belum lagi ketika gue melihat wanita yang benar-benar sempurna lewat di depanku. Dhini Aminarti, man. Sumpah cantik bangetttttttttt…. Lebih cantik daripada di tipi, padahal di tipi udah cantik banget. Atau Sarah Azhari yang seksi serta Dewi Persik yang ramah.

Oh.. One of My Greatest Moments.. Terimakasih Tuhan yang pernah memberikan kesempatan tak terlupakan ini. Ini terlalu berharga buatku… Yang sedang baca tapi belum pernah ke sana, mudah-mudahan dapat kesempatan ke Trans ya 🙂 Nonton Extravaganza atau Bukan Empat Mata.

 

Sejarah

Inisiatif untuk mendirikan Trans TV sendiri sudah ada dalam pikiran Chairul Tanjung (CT) pada awal 1990-an. CT pada saat itu mengajak Direktur TVRI, Ishadi S.K., untuk bergabung dengannya membangun sebuah stasiun televisi baru. Walaupun demikian, Ishadi menolaknya karena pemerintah pada saat itu tidak memberikan izin bagi keduanya untuk melaksanakan proyek ini.[1] Rencana besar CT baru terwujud ketika bersama 4 stasiun televisi lain (DVN TVMTI TVPRTV dan GIB), pada 12 Oktober 1999 Trans TV berhasil menjadi pemenang seleksi pendirian televisi baru dari Departemen Penerangan.

Pada 25 Oktober 1999, izin prinsip pendirian untuk Trans TV diberikan, bernomor 798/MP/PM/1999,[3] dan kemudian pada 23 Desember 1999 PT Televisi Transformasi Indonesia resmi didirikan di Jakarta.[4] “Transformasi” (disingkat dengan nama Trans) di sini bermakna bahwa stasiun televisi baru ini akan menjadi yang terdepan di Indonesia.[1] Hingga 2001, Trans TV melakukan beberapa persiapan seperti membangun stasiun relay di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan Medan, ditambah dengan menyiapkan dana lebih dari Rp 75 miliar dan menjalin kerja sama dengan perusahaan Prancis dan Inggris serta konsultan Australia.[5][6] Pelatihan juga dilakukan pada karyawannya yang masih belum memiliki pengalaman di TVRI, tempat Ishadi dahulu bekerja.[7] Awalnya, Trans TV direncanakan akan bersiaran perdana pada 1 Januari 2001[8] dan 18 Juni 2001, tetapi baru pada 22 Oktober 2001 stasiun televisi ini mampu mengadakan siaran percobaannya yang saat itu hanya berupa test card, dan cakupan siarnya terbatas di wilayah Jabodetabek saja.

Tiga hari kemudian, siaran percobaannya ditingkatkan dengan menayangkan beberapa acara, terutama program Trans Tune In, yang merupakan acara perkenalan stasiun televisi baru ini yang dikemas dengan gaya kuis diiringi penyangan video klip, ditambah perluasan siarannya ke Bandung. Siaran percobaan tersebut dimulai dari seorang presenter yang menyapa pemirsa pukul 17.51 WIB. Selain acara Trans Tune In yang merupakan produksi pertama Trans TV, juga disiarkan acara lain seperti Jelajah yang merupakan acara features dan laga sepakbola La Liga. Memasuki 1 Desember 2001, acara Trans Tune In digantikan oleh acara Transvaganza, yang merupakan acara perkenalan program-program yang akan disiarkan Trans TV kedepannya. Acara dalam siaran percobaannya kemudian ditambah dengan menayangkan film-film Barat, dan kuis Tebak Harga.[9] Trans TV kemudian diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada tanggal 15 Desember 2001 sekitar pukul 17.00 WIB dan memulai siarannya secara resmi secara nasional.[10]

Trans TV merupakan stasiun TV yang terbilang unik. Hal ini dikarenakan, stasiun TV ini merupakan satu dari sedikit stasiun TV di Indonesia yang tidak pernah mengalami perubahan kepemilikan, yaitu dimiliki oleh CT sampai sekarang. Bahkan, CT justru dapat mengembangkan sayapnya di industri pertelevisian dengan membeli mayoritas saham TV7, dan sempat dirumorkan juga pernah akan mengakuisisi beberapa stasiun televisi lain, seperti Indosiar dan antv.[11][12] Hal ini tidak lepas dari berhasilnya CT untuk membangun TV barunya ini bersama beberapa pihak, termasuk Ishadi S.K.Riza Primadi[13] dan Alex Kumara yang sudah malang-melintang di industri penyiaran nasional.[6] Target acara Trans TV saat awal bersiaran adalah hiburan umum, dengan titik berat di bidang kebudayaan, IPTEK dan olahraga, dengan modal awal yang mencapai Rp 500 miliar.[14][15][16] Siarannya sendiri awalnya hanya selama beberapa jam saja perhari, yang kemudian ditingkatkan menjadi 18 jam pada 1 Maret 2002 yang menandakan stasiun televisi ini bersiaran penuh, dan menjadi 20 jam pada September 2002.[10] Saat ini, Trans TV telah mengudara selama 24 jam sehari.

Dibandingkan dengan 4 stasiun televisi baru lain yang beroperasi pada saat yang sama (Lativi, Global TV, Metro TV dan TV7), Trans TV hingga 2003 merupakan stasiun TV yang paling bagus kinerjanya. Hal ini karena program-programnya, pada umumnya bersifat in-house buatan sendiri, ditambah program film Barat yang terkesan megah, sehingga dianggap berbeda dari televisi berbasis hiburan yang didominasi sinetron saat itu.[17] Beberapa program in-house Trans TV yang cukup memikat pemirsa, seperti Dunia LainExtravaganzaCantik IndonesiaWisata Kuliner, dan berbagai program lainnya. Kesuksesan Trans TV juga dibantu oleh sejumlah program sitkom seperti Bajaj Bajuri yang pernah cukup populer. Pada Juli 2003, pendapatan TV ini sudah mencapai Rp 40 miliar, hampir cukup untuk menutup biaya operasionalnya per bulan, yang artinya adalah 1/2 dari pendapatan Indosiar dan 2 kali dari pendapatan TPI di bulan tersebut.[18][19] Bahkan, pada 2006-2007, Trans TV berhasil menanjak menjadi stasiun televisi papan atas (peringkat 1-2), dan pendapatannya mencapai Rp 1 triliun menyaingi para pemain lama.[20] Kinerja Trans TV yang apik ini juga dibantu oleh seorang petingginya, yaitu Wishnutama (bekas pegawai Indosiar) yang memang dikenal cukup baik dalam menjadikan Trans TV unggul dalam program-program in-house yang segar.[21]

Kantor Trans Media di Jakarta.

Namun, tampaknya setelah Wishnutama pergi (bersama sejumlah karyawan Trans TV, untuk membentuk TV baru bernama NET.),[22] Trans TV mulai mengalami penurunan. Awalnya, stasiun televisi ini cukup populer beberapa saat dengan program Yuk Keep Smile (dahulu Yuk Kita Sahur) dengan ikon utamanya Caisar dengan berbagai goyangnya, seperti “goyang oplosan” dan selanjutnya “goyang Caesar“-nya (walaupun sering mendapat kritik),[23][24] namun pada akhirnya Trans TV harus “tersandung” acaranya tersebut karena pada akhir Juni 2014, acara ini dihentikan oleh KPI sebabnya melecehkan seorang legenda seni Benyamin Sueb.[25]

Sejak saat itu, rating Trans TV merosot dan tidak lagi berjaya, kalah pamor dari stasiun TV lain yang mengandalkan sinetron (kecuali untuk saat-saat tertentu, seperti Piala Dunia 2018 yang membuatnya bisa meraih rating nomor 1; dan saat pernah menyiarkan drama Korea The World of the Married).[26][27][28] Sempat berupaya juga terjun kembali ke program sinetron dengan kembali menggandeng MD Entertainment,[29] dan menyiarkan beberapa program seperti menghidupkan kembali Bioskop Trans TV, drama Korea dan animasi,[30] namun tetap saja sampai sekarang TV ini sulit untuk bangkit seperti kejayaannya dahulu. Kemudian, program Trans TV lebih banyak berisi gosip selebritis seperti Rumpi (No Secret)Pagi-Pagi AmbyarBrownis dan berbagai program lainnya.[31][32][33]

Sejak akhir 2021, Trans TV terlihat melakukan perubahan besar dalam pemrograman. Dimulai dengan kembalinya program pencarian bakat Indonesia Mencari Bakat setelah tujuh tahun absen dan kali ini menayangkan musim kelimanya,[34] serta hadirnya program komedi Klinik Tendean[35] dan kuis Dream Box Indonesia[36] yang kemudian membuka jalan sejumlah program in-house baru lainnya untuk tayang di Trans TV,[37][38][39][40] dan kemudian disusul kerjasama dengan pihak aplikasi layanan video WeTV untuk menayangkan sejumlah serial web mereka di Trans TV, dimulai dari versi serial web salah satu sinetron fenomenal Cinta Fitri.[41][42]

Penjenamaan

Logo Trans TV awalnya berbentuk batu berlian belah ketupat berdasarkan persegi yang digayakan, dengan tulisan TRANS di tengah-tengah (dengan font Optima) dan huruf T dan V masing-masing di atas dan bawah membentuk segitiga siku-siku sama kaki. Logo on-air-nya berwarna abu-abu, sedangkan logo perusahaannya memakai warna biru yang sempat mengalami beberapa perubahan minor. Trans TV menjadi stasiun televisi pertama di Indonesia yang menggunakan logo abu-abu sebagai logo on-air dan saat jeda iklan/komersial. Kilau berlian dianggap simbol dari refleksi kehidupan dan adat istiadat masyarakat seluruh Indonesia, dan juga simbol keabadian; sedangkan huruf serif mencerminkan karakter abadi, klasik, namun akrab dan mudah dikenali.[43][44]

Pada 15 Desember 2013, seiring dengan ulang tahun ke-12 Trans Media, logo Trans TV mengalami perombakan total dari sebelumnya. Tidak lagi berbentuk simbol, logo kali ini hanya berupa tulisan “TRɅNSTV” yang digayakan pada huruf A, di mana A tersebut (juga) diinterpretasikan sebagai sebuah berlian. (sebenarnya logo “berlian A” tersebut sudah diperkenalkan sejak 2011) Logo dengan simbol “Diamond A” di tengah kata Trans TV merefleksikan kekuatan dan semangat baru yang memberikan inspirasi bagi semua orang di dalamnya untuk menghasilkan karya yang gemilang, diversifikasi konten atau keunikan tersendiri serta kepemimpinan yang kuat.

Logo “berlian A” tersebut terdiri dari berbagai warna dengan makna dan filosofi khusus.

  • Warna kuning sebagai cerminan warna keemasan pasir pantai yang berbinar dan hasil alam nusantara sekaligus melambangkan optimisme masyarakat Indonesia.
  • Warna hijau menggambarkan kekayaan alam Indonesia yang hijau dan subur, serta memiliki ketangguhan sejarah bangsa.
  • Warna biru melambangkan luasnya cakrawala dan laut biru sekaligus menggambarkan kekuatan generasi muda bangsa Indonesia yang andal dan memiliki harapan tinggi.
  • Warna ungu menggambarkan keagungan dan kecantikan budaya dan seni bangsa Indonesia yang selalu dipuja dan dihargai sepanjang masa.

Semua rangkaian warna yang mengandung makna cerita di dalamnya, menyatu dengan serasi dan membentuk simbol yang utuh, kuat dan bercahaya di dalam berlian berbentuk A ini. Sehingga bisa dipahami makna dari logo baru Trans TV ini menjadi tanda yang menyuarakan sebuah semangat dan perjuangan untuk mencapai keunggulan yang tiada banding mulai dari sekarang hingga masa mendatang.

Acara

Penyiar

Jaringan siaran

Berikut ini adalah transmisi Trans TV dan stasiun afiliasinya (sejak berlakunya UU Penyiaran, stasiun TV harus membangun stasiun TV afiliasi di daerah-daerah/bersiaran secara berjaringan dengan stasiun lokal). Data dikutip dari data Izin Penyelenggaraan Penyiaran Kominfo.[45]

Keterangan: yang dicetak miring berarti masih berupa stasiun relay dan belum memiliki siaran lokalnya sendiri.

Nama Jaringan Nama Stasiun Daerah Frekuensi Analog (PAL) Frekuensi Digital (DVB-T2)[46]
PT Televisi Transformasi Indonesia Trans TV DKI JakartaBogorDepokTangerangBekasi 29 UHF 40 UHF
PT Trans TV Sukabumi Mamuju Trans TV Sukabumi Sukabumi 42 UHF 45 UHF
Trans TV Mamuju Mamuju 24 UHF
PT Trans TV Pekanbaru Padang Trans TV Pekanbaru Pekanbaru 24 UHF 33 UHF
Trans TV Padang PadangPariaman 29 UHF
PT Trans TV Bukittinggi Gorontalo Trans TV Bukittinggi BukittinggiPadang Panjang 60 UHF
Trans TV Gorontalo Gorontalo 50 UHF 31 UHF
PT Trans TV Tegal Malang Trans TV Tegal BrebesTegalPemalangPekalongan 46 UHF 44 UHF
Trans TV Malang MalangBatu off air 27 UHF
PT Trans TV Palangkaraya Palu Trans TV Palangkaraya Palangkaraya 45 UHF 42 UHF
Trans TV Palu Palu 33 UHF
PT Trans TV Balikpapan Trans TV Balikpapan Balikpapan 24 UHF 44 UHF
Trans TV Kupang Kupang 52 UHF
PT Trans TV Sumedang Pangkalpinang Trans TV Majalengka MajalengkaSumedang 62 UHF 41 UHF
Trans TV Pangkalpinang Pangkal Pinang 52 UHF
PT Trans TV Ambon Ternate Trans TV Ambon Ambon 34 UHF
Trans TV Ternate Ternate 34 UHF 40 UHF
PT Trans TV Denpasar Banjarmasin Trans TV Denpasar Kota Denpasar 43 UHF
Trans TV Banjarmasin BanjarmasinMartapuraMarabahan 32 UHF 37 UHF
PT Trans TV Yogyakarta Bandung Trans TV Yogyakarta YogyakartaWonosariSoloSlemanWates 24 UHF 47 UHF
Trans TV Bandung BandungCimahiPadalarangCianjurSukabumi 42 UHF 45 UHF
PT Trans TV Semarang Makassar Trans TV Semarang SemarangKendalUngaranDemakJeparaKudus 29 UHF 42 UHF
Trans TV Makassar MakassarMarosSungguminasaPangkajene 45 UHF
PT Trans TV Surabaya Jayapura Trans TV Surabaya SurabayaLamonganGresikMojokertoPasuruanBangkalan 22 UHF 27 UHF
Trans TV Jayapura Jayapura 32 UHF 34 UHF
PT Trans TV Jambi Lampung Trans TV Jambi Jambi 29 UHF 32 UHF
Trans TV Lampung Bandar LampungKota Metro 26 UHF
PT Trans TV Pontianak Manado Trans TV Pontianak Pontianak 27 UHF 41 UHF
Trans TV Manado Manado 24 UHF 35 UHF
PT Trans TV Mataram Samarinda Trans TV Mataram Mataram 34 UHF
Trans TV Samarinda SamarindaTenggarong 45 UHF 31 UHF
PT Trans TV Batam Kendari Trans TV Batam BatamTanjung Balai Karimun 45 UHF 46 UHF
Trans TV Kendari Kendari off air
PT Trans TV Aceh Trans TV Aceh Banda Aceh 30 UHF 33 UHF
PT Trans TV Medan Palembang Trans TV Medan Medan 27 UHF 30 UHF
Trans TV Pematangsiantar Pematang Siantar tidak ada 38 UHF
Trans TV Palembang Palembang 30 UHF 35 UHF
PT Trans TV Bengkulu Jember Trans TV Bengkulu Bengkulu 51 UHF
Trans TV Jember Jember 22 UHF 48 UHF
PT Trans TV Cirebon Kediri Trans TV Cirebon CirebonIndramayu 62 UHF 41 UHF
Trans TV Kediri KediriPareNganjukJombangBlitarTulungagung 22 UHF 48 UHF
PT Trans TV Purwokerto Situbondo Trans TV Purwokerto PurwokertoBanyumasPurbalinggaKebumenCilacap 46 UHF 40 UHF
Trans TV Situbondo Situbondo
PT Trans TV Manokwari Kendari Trans TV Manokwari Manokwari 32 UHF
PT Trans TV Madiun Garut Trans TV Madiun MadiunMagetanNgawiPonorogo off air 30 UHF
Trans TV Garut Garut 42 UHF 40 UHF
Tarakan 35 UHF 29 UHF
Baubau 35 UHF
Kolaka 21 UHF
TasikmalayaCiamis 42 UHF
Nunukan 28 UHF
CilegonSerang 46 UHF
Pandeglang 40 UHF
Lhokseumawe 38 UHF
Rantau Prapat 39 UHF
Tanah Grogot 37 UHF
Tanjung Redeb 34 UHF
Bireuen 37 UHF
SibolgaPandan 39 UHF
KandanganRantauAmuntaiBarabai 35 UHF
Padangsidempuan 38 UHF
Meulaboh 38 UHF
Siborongborong 47 UHF

Direksi

Daftar direktur utama

No. Nama Awal jabatan Akhir jabatan
1 Ishadi Soetopo Kartosapoetro 1999 2008
2 Wishnutama 2008 2012
3 Chairul Tanjung 2012 2013
4 Atiek Nur Wahyuni 2013 sekarang

Direksi saat ini

No. Nama Jabatan
1 Atiek Nur Wahyuni Direktur Utama
2 Atiek Nur Wahyuni Direktur Penjualan dan Pemasaran
3 Warnedy Direktur Keuangan dan Sumber Daya
4 Latif Harnoko Direktur Operasional [47]

Kontroversi

Perselisihan dengan TPI di Purwokerto

Trans TV pernah mengajukan permohonan untuk mengudara di Purwokerto menggunakan kanal 43 UHF (647,25 MHz) karena sejak hampir sekitar setahun masyarakat di sekitar Purwokerto tidak dapat menikmati layanan Trans TV, tetapi kanal tersebut digunakan untuk TPI (sekarang MNCTV) berdasarkan surat izin No. 00781311-000SU/202006 yang berlaku sampai 31 Januari 2007.

Sebelumnya, Trans TV berani menyediakan layanan televisi bagi masyarakat di sekitar Purwokerto setelah memperoleh izin dari Gubernur Jawa Tengah tentang perluasan jangkauan siaran Trans TV di Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Tegal (6 Januari 2003). Surat persetujuan serupa sebelumnya juga telah diberikan secara berturut-turut oleh Bupati Banyumas (20 November 2002) dan Bupati Purbalingga (27 November 2002).

Pada tahun 2005, Kepala Balai Monitoring Frekuensi Radio dan Orbit Satelit Semarang mendapati bahwa kanal 43 UHF di Purwokerto ternyata digunakan oleh Trans TV berdasarkan hasil monitoring langsung yang diadakan di Purwokerto pada tanggal 20 September 2005.

Hal tersebut membuat Trans TV mendapat peringatan dari Dirjen Postel pada 21 April 2006 karena Trans TV tidak memiliki izin resmi untuk mengudara di wilayah Purwokerto dan sekitarnya. Namun, pada waktu itu Trans TV masih mengudara di Purwokerto menggunakan kanal yang sama (43 UHF), sehingga masyarakat di sana tidak dapat menerima Trans TV dan TPI dengan gambar yang jelas.

Kemudian pada September 2007, Dirjen Postel memberi peringatan final untuk Trans TV karena Trans TV masih bersiaran di Purwokerto menggunakan kanal yang sama yang sebelumnya telah diberikan kepada TPI oleh Ditjen Postel. Hal tersebut dapat diselesaikan dengan penertiban frekuensi secara nasional.[48]

Lihat pula


Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Cart

Tidak ada produk di keranjang.

Added a product

Ketika ke Trans TV

012 min