Hari gene masih Friendster?

Wah judule ngina banget yah…

‘Hari gene masih Friendster? Itu mah mainan anak kecil.. kita mah.. ngeblog… facebook..’ Tsaahhh Sombong benneerrr…

Segitu kerennyakah FB sehingga membuat orang congkak dan melupakan asam garam dunia per-friendster yang yang sudah membesarkanan nama banyak orang layaknya from Zero to Hero (lebayyy).

But mungkin emang kayak gitu ya perkembangan situs pertemanan di indonesia tersebut sekarang. Facebook dirasa masih tersentuh oleh orang yang ’smart’, ‘gaul’, always ‘up to date Hi Tech’. Pokoknya seakan-akan menjelma menjadi simbol Prestiseus-nya seseorang. Apalagi memang setelah dipikir banyak aplikasi Facebook yang lebih asyik ketimbang FS yang membuat Login ke FS jadi mulai menyurut.

Guepun akhirnya terjebak dengan glamornya dunia FB (glamoorrr…). Dari ngutak ngatik foto album mengumbar kenarsisan, ngomen gak jelas sana-sini. Duh pokoknya benar-benar menghanyutkan. Mungkin akibat dari cepatnya pesan yang kita kirim sampai. Tak tik tak tik.. enter.. Flash!!! Duarrr!!! Komenpun muncul dalam durasi super kilat. Gak bikin bete dengan hadirnya Mister Loading.

Oh FB emang sungguh sakti dimata gue. Mendadak gue bisa ‘touch’ ma teman-teman lama, teman-teman SMA maupun alumni kampus Extravaganza yang sekarang sedang ramai di FB-ku. Edan.. semuanya ngumpul di FB. Which means semuanya yang sebelumnya punya FS ternyata sekarang memang lebih eksis nge-FB .

Ketika semuanya kena TAG dan akhirnya terjadi Photo discussion to arrange whats next planning

FB benar-benar makin naik daun, walaupun di Indonesia pengguna FS masih jauh lebih besar ketimbang FB seperti terlihat dari survey Google Trends di bawah.

Tapi kalau dihitung secara universal atau mendunia. See under!

Ternyata Facebook jauuuuuuuhhhh lebih pamor ketimang FS ya. FS is Nothing!

Buruknya:
Jadi merasa lebih banyak waktu ngotak-ngatik FB ketimbang nge Blog. Oh it’s so Dangerouusss, Man…

 

Friendster dan Awal Mula Berjayanya Media Sosial

Sebelum Facebook merajai, Friendster adalah media sosial yang paling digandrungi. Bagaimana sejarah Friendster dimulai? Berikut ulasannya.

Ilustrasi Friendster. Shutterstock/dok.
Ilustrasi Friendster. Shutterstock/dok.

 

Bagi pengguna internet pada awal 2000-an, pasti tak asing dengan media sosial yang satu ini. Ya, Friendster merupakan salah satu platform yang mengawali berjayanya media sosial di jagat internet.

Bagaimana awal terciptanya Friendster dan apa yang membuatnya gagal bertahan? Berikut ulasannya untuk Sobat Valid.

Sejarah Friendster
Friendster diciptakan oleh Peter Chin, Jonathan Abrams, dan Dave Lee. Mereka memiliki ide untuk menciptakan media sosial yang memungkinkan penggunanya membuat halaman profil dan berinteraksi dengan teman baru, teman lama, hingga membangun jaringan di internet.

Nama “Friendster” berasal dari kata “Friend” yang berarti “teman”, dan “Napster” yang merupakan situs web berbagi file (utamanya musik) secara ilegal dan besar pada masanya. Saat itu, Jonathan Abrams sangat menggemari Napster dan berharap kelak Friendster dapat sebesar situs web tersebut.

Friendster diluncurkan pada 2002. Hanya dalam beberapa bulan setelah diluncurkan, media sosial ini telah memiliki 3 juta pengguna. Kemudian, terus bertambah hingga puncaknya mencapai 115 juta pengguna yang mayoritas berasal dari Asia.

Baca juga: Pemerintah Hapus Ribuan Hoaks Covid-19 Di Media Sosial

Fitur andalan Friendster adalah “testimoni” yang mirip dengan fitur kolom komentar yang sering kita temui di berbagai situs web modern. Pengguna pun bisa meninggalkan kesan dan pesan pada halaman pengguna lain.

Selain itu, pengguna juga dapat mengkreasikan laman Friendster mereka dengan berbagai tema, menggunakan kode-kode CSS (Cascading Style Sheets) tingkat dasar. Fitur ini sangat dicintai pengguna karena memungkinkan mereka berekspresi dengan mengubah tampilan sesuka hati dengan mudah.

Muncul Persaingan
Friendster dapat dikatakan sebagai platform yang mengawali tren media sosial. Belum genap dua tahun sejak Friendster diluncurkan, muncul banyak pesaing yang menawarkan fitur serupa.

Salah satu pesaing terbesarnya saat itu adalah MySpace yang lahir pada akhir 2003. Diciptakan oleh Chris De Wolfe dan Tom Anderson, MySpace sempat menjadi fenomenal di awal kemunculannya.

Media sosial ini dahulu dikenal sebagai tempat nongkrong anak band untuk bertemu dengan penggemarnya. Para pendiri MySpace mengaku membuat platform ini karena melihat peluang besar di dunia media sosial setelah melihat kesuksesan Friendster.

Baca juga: Instagram Diam-Diam Naikkan Batas Waktu Opsi Time Limit

Selain MySpace, ada pula Ringo.com yang didirikan oleh Michael Birch dan Okrut yang diluncurkan Google pada 2004, namun gagal bertahan. Di tahun yang sama, muncul Facebook yang semakin meningkatkan persaingan.

Ketika MySpace dan Facebook semakin berkembang, Friendster pun semakin ditinggalkan karena masalah stabilitas dan tidak adanya inovasi lain. Meskipun pada akhirnya, MySpace juga mulai ditinggalkan sejak 2015 dan hanya Facebook yang masih berjaya hingga sekarang.

Tahun-tahun berikutnya, muncul beragam media sosial yang menawarkan berbagai fitur, seperti YouTube dengan fitur berbagi videonya pada 2005; Twitter dengan fitur berbagi teks terbatas pada 2006; Tumblr dengan fitur blogging-nya pada 2007; Instagram dengan fitur berbagi fotonya pada 2010; hingga kini yang paling terkenal, TikTok dengan fitur berbagi video singkat yang lahir pada 2016.

Gagal Bersaing
Sebenarnya, sampai 2003, Friendster telah mengumpulkan dana tambahan hingga $US13 juta. Abrams selaku pendiri pun punya ide untuk mendirikan Friendster College untuk mengembangkan fitur Friendster.

Ide yang waktu itu diangankan adalah membangun koneksi dengan 20 perguruan tinggi, membuat feeds berita, dan fitur berbagi playlist musik. Sayangnya, ide-ide tersebut tidak sempat terwujud.

Masalah teknologi jadi kendala pengembangan Friendster. Belum lagi, investor tidak fokus pada perbaikan layanan. Bahkan, selama dua tahun pengguna Friendster tidak dapat masuk ke situs web tersebut.

Abrams kemudian dicopot dari jabatannya sebagai CEO pada April 2004, dua bulan setelah Facebook diluncurkan. Ia pun tak lagi punya banyak wewenang dan pengaruh dalam perusahaan tersebut.

Dengan kondisi yang semakin menurun dan telah kehilangan banyak pengguna, Friendster akhirnya dijual kepada MOL Global, perusahaan asal Malaysia, pada 2009 seharga $US40 juta. Kemudian, Facebook pun membeli seluruh portofolio dan hak paten jejaring sosial Friendster seharga $US40 juta.

Friendster diubah menjadi situs gim online. Data dan kenangan pengguna Friendster resmi dihapus per 31 Mei 2011. Namun demikian, pamornya pun tak membaik dan terus tenggelam. Friendster pada akhirnya resmi ditutup pada 2015.

Saat ini, barang kali media sosial angkatan lawas yang bertahan melintasi zaman, di antaranya adalah Facebook dan Twitter. Jika diperhatikan, alasan keduanya berjaya hingga sekarang adalah karena kedua platform tersebut selalu mengikuti kemauan penggunanya.

Facebook dan Twitter hingga saat ini terus mengembangkan algoritma dan fitur mereka. Memang, tak dapat dimungkiri, dalam persaingan bisnis media sosial ini, kecepatan inovasi dan kepekaan terhadap pasar jadi kunci untuk bertahan. Singkatnya, inovasi adalah kunci.

Referensi:

History of Friendster. Diakses dari Love to Know: https://socialnetworking.lovetoknow.com/history-friendster

Friendster’s Jonathan Abrams: Failure Is a Matter of Perspective. Diakses dari Stanford Business: https://www.gsb.stanford.edu/insights/friendsters-jonathan-abrams-failure-matter-perspective


Artikel Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Cart

Tidak ada produk di keranjang.

Added a product

Hari gene masih Friendster?

3504 min