Fakta Terjadinya Krisis di Inggris

Fakta Terjadinya Krisis di Inggris

Berbagai media lokal dan Internasional baru-baru ini diramaikan dengan berita krisis yang melanda Inggris. Sejumlah tajuk mengenai krisis di negara tersebut pun seolah semakin menunjukan bahwa krisis benar-benar semakin nyata. Tapi, apa sebenarnya yang menjadi penyebab krisis di Inggris ini?

Krisis ekonomi di Inggris semakin terlihat nyata dan mendalam. Hal ini bukan saja menyangkut persoalan energi, namun sudah merembet ke berbagai sektor lainnya. Bahkan hingga sektor sosial ekonomi masyarakatnya.

Bahkan CNBC melaporkan bahwa mayoritas ekonom sepakat bila persoalan Inggris dipicu oleh tindakan mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson ketika berkuasa, yang menarik keluar Inggris dari keanggotaan Uni Eropa (UE) pada 1 Januari 2020. Sejak itu, Inggris mulai dilanda kelangkaan barang.

Pasca Brexit, Inggris juga mulai merasakan dampak yang luar biasa pada praktik perdagangan luar negeri. Inflasi diperparah oleh lonjakan harga energi akibat pasokan tersendat pasca perang Ukraina-Rusia. Berikut adalah daftar fakta terjadinya krisis di Inggris:

1. Harga Energi Melambung

Kenaikan harga energi makin memperparah krisis Inggris. Kenaikan ini sendiri didorong oleh naiknya harga bahan bakar setelah serangan Rusia ke Ukraina. Inggris dan beberapa sekutunya melemparkan embargo atas beberapa bahan bakar asal Rusia.

Bahkan, otoritas energi Inggris Ofgem berencana untuk menaikan tarif batas atas listrik rumah tangga hingga 3,549 pound atau Rp 60,7 juta setahun. Padahal, sebelumnya tarif batas atas hanya menyentuh angka 1.971 pound atau Rp 33,7 juta. Hal ini pun mendorong kenaikan inflasi negeri mendiang Ratu Elizabeth tersebut.

2. Inflasi hampir mencapai 10 persen

Kenaikan harga energi juga mendorong barang, termasuk makanan makin melambung. Akibatnya, inflasi Inggris berada di level 9,9 persen secara year-on-year (yoy). Hal ini terjadi saat harga pangan di negara itu naik karena krisis biaya hidup yang terus berlanjut.

Untuk inflasi inti, yang tidak termasuk energi yang mudah menguap, makanan, alkohol dan tembakau yang mengalami kenaikan mencapai 0,8 persen secara bulan ke bulan dan 6,3 persen secara tahunan.

3. Masyarakat mulai terjerat prostitusi

Mahalnya energi dan inflasi tinggi kemudian telah membuat warga mulai kesulitan dalam mendapatkan pangan. Anak-anak mulai kelaparan dan banyak orang tua yang sudah kesulitan memiliki pendapatan.

Akibatnya, kenaikan biaya hidup ini menjadi faktor pendorong lebih banyak perempuan memilih untuk terlibat dalam prostitusi. Data terbaru English Collective of Prostitution, yang dikutip akhir bulan lalu, mengatakan banyak warga yang menjadi PSK ini merupakan orang tua tunggal. Di Inggris, prostitusi indoor diizinkan pemerintah.

Sementara itu, mengutip Survey Resolution Foundation, dalam kurun waktu itu sampai dengan pandemi 2020, rata-rata pendapatan kelas pekerja hanya naik 0,7 persen pertahun. Ini jauh dari rekaman dekade sebelumnya sebesar 2,3 persen (antara 1961-2005).

4. Bank Sentral Inggris Naikkan Suku Bunga

Di tengah krisis, bank sentral Bank Of England (BoE) telah menaikkan suku bunga 50 basis poin menjadi 2,25 persen. Kenaikan suku bunga ini menjadi yang ketujuh secara berturut-turut.

Bank sentral ini bahkan juga berencana untuk memberikan kenaikan suku bunga ‘signifikan’ ketika pertemuan berikutnya pada bulan November. Ini dilakukan untuk mengendalikan inflasi hingga di level 2 persen.

5. Kebijakan Kontroversial PM Baru

Sementara itu, di tengah krisis Perdana Menteri (PM) Liz Truss, yang baru terpilih, mengeluarkan kebijakan kontroversial. Ia memberi paket stimulus ekonomi berupa pemotongan pajak senilai US$48 miliar, tanpa pengurangan belanja negara.

BoE mengkritik keras kebijakan itu. Bahkan disebut bahwa pemerintah tengah menakut-nakuti investor. Bank sentral menyebut runtuhnya kepercayaan dalam ekonomi bisa menimbulkan “risiko material bagi stabilitas keuangan Inggris.”

Selain itu, IMF juga beranggapan serupa, di mana lembaga itu, meminta negara anggota G-7 untuk mendorong PM Truss meninggalkan rencana paket stimulus pajak dan mencari pinjaman untuk menutupi biaya belanja.

6. Mata Uang Pound Ambruk

Pertentangan BoE dan pemerintah membuat nilai mata uang pound ambruk. Senin kemarin, nilainya bahkan ambruk hingga 4,37 persen ke US$ 1.0382/GBP. Ini adalah rekor terlemah poundsterling. Sebelumnya mata yang itu pernah berada di US$ 1,0520/GBP yang tercatat pada 26 Februari 1985.

7. Menghadapi Resesi

Inggris saat ini sudah masuk resesi setahun penuh. Resesi ini sudah dimulai pada kuartal kedua tahun ini. Hal itu diakibatkan oleh rumah tangga yang menghadapi inflasi hingga 9,9 persen. Angka tersebut juga diproyeksikan akan naik akibat musim dingin yang akan datang sehingga konsumen akan mengurangi belanjanya.

8. Tarif Listrik Naik Lagi

Regulator energi Inggris mengumumkan akan menaikkan 80% batas utama tagihan listrik ke konsumen pada Oktober 2022. Tagihan listrik akan naik dari sebelumnya 1.971 poundsterling atau Rp 33,24 juta (kurs Rp 16.864) per tahun, rata-rata akan menjadi 3.549 poundsterling atau Rp 59,85 juta per tahun.

Aturan ini mencakup 24 juta rumah tangga. Sebanyak 4,5 juta rumah tangga prabayar juga menghadapi rencana kenaikan dari 2.017 poundsterling menjadi 3.608 poundsterling.

9. Pekerja Transportasi Mogok

Sektor transportasi di Inggris juga terancam ‘mati suri’. Bagaimana tidak, lebih dari 2.000 pengemudi bus di London beserta 600 stafnya di Kent berencana melakukan aksi mogok pekan depan. Bahkan, Serikat pekerja Unite mengatakan pemogokan oleh pengemudi bus London akan terus berlanjut sampai persoalan tuntutan gaji diselesaikan.

Memburuknya krisis biaya hidup di Inggris telah mendorong para pekerja di industri kereta api, maskapai penerbangan, pengacara, bahkan staf serikat pekerja melakukan aksi mogok.

 

Fakta Terjadinya Krisis di Inggris - .


Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Cart

Tidak ada produk di keranjang.

Added a product

Fakta Terjadinya Krisis di Inggris

03 min